Selasa, 29 Desember 2009

MEE YANG SEJATI DAPAT BERTINDAK SEBAGAI HAMBA ALLAH DALAM MEMBANGUN PRIBADI, SESAMA DAN TUHAN

“Hidup saya karena ada hidup, hidup saya untuk mencari hidup dan hidup saya untuk melakukan pekerjaan hidup”.
(Galatia 2:20)

“Hidup saya datang dari hidup dan hidup akan kembali kepada hidup dimana ia datang”.
(Senior Pekei)

Kita bisa telusuri di dalam Kitab Kejadian ketika TUHAN menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Tujuh kali ALLAH menyatakan bahwa apa yang telah diciptakan-Nya itu "baik" (Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). Enam ayat sebelumnya selesai menciptakan langit dan bumi serta segala isinya kecuali Manusia, Ia menggunakan kata “baik”. Tetapi ketika TUHAN menciptakan manusia, Ia menambahkan dengan kata “sungguh amat baik”. Karena Adam dan Hawa diciptakan menurut gambar dan rupa ALLAH (Kejadian 1:27) dan dengan diciptakan Manusia, mereka juga tanpa dosa. Setiap bagian dari ciptaan ALLAH secara sempurna memenuhi kehendak dan maksud-Nya. ALLAH menciptakan dunia ini untuk mencerminkan kemuliaan-Nya dan untuk menjadi tempat di mana umat manusia dapat mengambil bagian dalam sukacita dan hidup-Nya.

Dari antara semua ciptaan-Nya terdapat pula mahluk hidup. Mahluk hidup itu satu di antaranya “Manusia”. Mee tidak dapat disamakan dengan mahluk lain, mengapa demikian? Karena di antara mahluk-mahluk ciptaan TUHAN yang lain, Manusia memiliki keunikan tertentu yang tidak ada taranya dan ditempatkan di Taman Eden. Untuk itu, lebih jelasnya kita akan mendapatkan ulasan berikut:

A. MEE, DALAM ARTI YANG LUAS.

“MEE” artinya “MANUSIA”. Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas menuliskan bahwa “Manusia” atau “Orang” dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.

1. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primate dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
2. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.
3. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan .

Sebagai makhluk yang diciptakan ALLAH untuk membedahkan mana yang baik dan mana yang jahat dan mahluk yang diciptakan sebagai mahluk yang mulia menurut ALLAH. Manusia mahluk hidup di bumi yang paling unik dan mulia. Manusia punya tinggkat intelektual yang paling tinggi, perasaan yang paling tinggi, pikiran yang paling tinggi, mempunyai daya cipta (kreatifitas) yang paling tinggi, dan terdapat pula berbagai keunikan yang tidak dapat diimbanginya. Disamping itu Manusia memiliki tiga unsur, yaitu: tubuh, jiwa dan roh. Tubuh berhubungan dengan daging; jiwa berhubungan dengan darah, energi, semangat, naluri, gaya, dan hidup; sedangkan roh berhubungan dengan keilahian. Seperti baik dan buruk, dosa dan tidak, kudus dan najis, benar dan salah, adil dan tidak, takut akan TUHAN dan kehidupan setelah kematian. Dengan demikian Mee adalah mahluk yang unik, sempurna dan utuh jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lainnya.

Walaupun Pencipta (Ugatamee) menciptakan “Manusia” itu mahluk yang unik, sempurna dan utuh, di pandangan Pencipta saat ini kehilangan sebagian daripada kesempurnaan itu sendiri. Mengapa kehilangan kesempurnaan? Mungkin karena perubahan perkembangan tingkat kebudayaan yang semakin meningkat dengan pesat sehingga mengakibatkan terkikisnya kesempurnaan? Ataukah karena dimana Manusia itu berada tidak didukung oleh tanah, iklim, situasi dan kondisi sehingga energi (tenaga) untuk mempertahankan kesempurnaan tersebut melemah? Hal itu menjadi tantangan bagi kita untuk merefleksi bahwa siapa saya sebenarnya? Untuk apa saya hadir di dunia ini? Dan apa tugas saya di dunia ini untuk pribadi, sesama dan untuk TUHAN? Barulah kita bertindak mewujudkan kemuliaan di Taman Eden yang telah disembunyikan TUHAN.

B. MEE, MENURUT SUKU MEE.

“Mee” artinya “Manusia” atau “orang”. Anda berpikir sejenak dan memberikan jawaban sendiri, siapa sebenarnya orang Mee itu (Mee tita kouko maakodoko meimemayi)? Apa arti orang Mee (Mee bokoyatoko kadaniyi)? Apa tujuan keberadaan orang Mee di dunia pada umumnya dan khususnya di Tigi (inii Mee Tigi makiidaa kouya nimakiyaawita kouko kotopiyawita dimiiko kadanii)? Untuk apa orang Mee ditempatkan di bumi (maigo teetita tiyake Mee kou kiimakiidaa kiiya nimakiya wita)? Anda yang telah membaca beranggapan bahwa gampang memberikan soal-soal tersebut di atas, tetapi bagi saya sulit memberikan jawabanya karena bukan sebatas membaca dan memberikan jawaban tetapi melakoninya. Musti membutuhkan refleksi ke dalam tentang apa makna “Mee” yang sesungguhnya dan bertindak sebagai orang Mee yang sejati.

Beberapa orang mempunyai konsep masing-masing tentang asal-usul, arti, dan makna “Mee” bahwa Orang Mee adalah manusia yang hidup di daerah Paniai yang dalam etnografi Papua disebut Suku Mee. Menurut asal suku bangsanya, suku Mee dan Suku Migani berasal dari “Pupu Papa” Bagian Timur Pegunungan Tengah Papua Barat tepatnya di lembah Baliem . Dan diperkirakan mereka tiba dan menetap di daerah Paniai sejak tahun 1100 (900 tahun yang lalu) . Ciri khas daerah Paniai (suku Mee dan Migani) adalah di sekitar danau-danau Wissel, Dataran Kamu dan Daerah Pengunungan Mapiha/Mapisa . Namun demikian, wilayah Paniai (Paniai doko) bukan hanya didiami oleh suku Mee dan Migani tetapi, ada beberapa suku lain yang telah lama hidup di daerah Paniai yaitu suku Nduga, Suku Dauwa, Suku Wolani, dan lain-lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari “perubahan” di segala dimensi. Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan awal dari pada proses perubahan tersebut. Tak terkecuali, suku Mee terlibat dalam proses itu. Dimana telah terbukti bahwa orang Paniai, telah menerima budaya lokal maupun budaya modern. Entah melalui ajaran gereja (agama) maupun pemerintah (Belanda).

Filsafat orang Mee bahwa dikatakan “MEE” berarti tentunya orang yang tahu tentang:

1. Baik dan buruk,
2. Dosa dan tidak,
3. Kudus dan najis,
4. Benar dan salah,
5. Adil dan tidak adil,
6. Mengasihi orang,
7. Hidup damai,
8. Takut akan Ugatame (Pencipta),
9. Menghargai dan menjalankan norma-norma atau hukum-hukum adat yang berlaku dalam masyarakat Mee itu sendiri.

Bukan hanya sebatas tahu tetapi menjadi pelaku bahkan sampai menjadi bagian dari hidupnya.

Jika orang Mee membunuh saudaranya, ia bukan lagi “Mee” tetapi orang Mee katakana kepada pelaku bahwa “Kiiko Meeki Beukaa Eniyano Wagigoo yamaa-wei”, artinya “Ia bukan manusia lagi, setan itu enyahkan dia dari bumi ini bersama saudaranya”, orang Mee tahu bahwa Manusia yang sesungguhnya (sempurna) tidak membunuh. Demikian juga jika kedapatan berzinah, orang Mee katakana “Kiiko yina tumaanano wagigoo yamaawei” artinya “Ia bukan manusia tetapi binatang bunuh dia”, karena binatang tidak bedahkan itu mama, itu saudara, itu bapa dan tidak pandang itu suami atau istri orang. Bagi orang Mee yang mencuri dipotong jarinya dengan berkata “kipokou yaduwawei, oma motinaa kediwoyaa bedoo kii”, artinya “dipotong jarinya ayam kuku panjang yang mencuri”. Selain dari itu orang Mee juga berkata kepada Mee yang tidak mengasihi saudaranya bahwa “Meeki beuno ipako beubagee keike” artinya “bukan manusia, orang yang tidak mengasihi saudaranya”. Ada pula juga orang Mee berkata kepada orang Mee yang bertindak menyakiti hati orang lain atau melanggar norma-norma dan hukum dari kecil hingga besar yang berlaku di masyarakat suku Mee bahwa “kiike dagi didi” atau “dimiki beu” artinya “orang itu pusing” atau “abnormal”. Leluhur Orang Mee sangat pekah terhadap perbuatan yang bertindak secara tidak manusiawi, karena perbuatan yang demikian adalah virus yang menghilangkan atas warna orang Mee yang sejati.

Filsafat orang Mee bahwa perbuatan tidak manusiawi yang dilakukan oleh orang Mee sendiri adalah mengikis diri sebagai orang Mee yang sejati. Tindakan leluhur kita menjatuhkan hukuman ringan maupun berat sampai maut sekalipun terhadap seseorang yang tertangkap basah ketika ia melanggar dan berbuat perbuatan yang tidak bermoral (melanggar hukum) adalah untuk membunuh hama penyakit yang dapat mengikis dan mengurangi kesempurnaan dan keunikan yang terdapat di dalam suku Mee itu sendiri.

Disamping itu juga Orang Paniai “Mee” hidup diatas dua telapak kakinya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dan mereka memiliki struktur kehidupan yang jelas dan tersendiri yaitu:

1. Pertama, mempunyai tatanan sosial yang jelas.
2. Kedua, mempunyai tradisi yang tersusun rapi.
3. Ketiga, tidak tergantung kepada siapapun dan menciptakan suasana hidupnya sendiri.
4. Keempat, mempunyai rasa percaya diri yang sangat menonjol.
5. Kelima, mempunyai kehidupan sosial yang sangat tinggi.
6. Keenam, mempunyai identitas diri dan
7. nilai-nilai budaya yang sangat jelas.

Bila ditinjauh dari kaca mata antropologi, tujuh jenis unsur kebudayaan secara umum dan tiga jenis wujud kebudayaan yang disebutkan oleh Koentjaraningrat, (2002) dalam buku Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Unsur-unsur dan nilai-nilai hidup budaya orang Mee itu misalnya:

1. Pertama, adanya sistem religi (kepercayaan) akan TUHAN (Ugatamee) Sang Pencipta.
2. Kedua, sistem organisasi dan kemasyarakatan, seperti orang kaya (tonawimee), dan mempunyai membina relasi yang baik dengan orang lain.
3. Ketiga, sistem pengetahuan (epi dimi mana) seperti, tahu membedahkan baik dan buruk.
4. Keempat, bahasa (Mee mana) mempunyai bahasa daerah (bahasa ibu).
5. Kelima kesenian, seperti wiyani, uga, kaido dan lain lain.
6. Keenam, sistem mata pencahariahn hidup seperti beternak, bertani dan berburu kukus dan mencari ikan di danau.
7. Ketujuh, sistem teknologi, dan peralatan seperti yika (kapak batu), patau/yado, dan busur dan anak panah (Ukaa Mapega).

Orang Mee tidak mengenal tulisan (bentuk huruf). Tetapi, secara lisan mereka (leluhur) kita telah menurunkan nilai-nilai budaya dalam bentuk bahasa lisan. Disamping itu Mee menjalankan pendidikan non-formal. Contoh mendidik orang tua kepada anak muda untuk mejalani hidup sebagai orang Mee yang bermoral dan bermartabat, bahwa “Masa muda (yokaga ga) adalah masa dimana puncak kejajahan, keistimewaan, kebolehan. Sehingga dalam kehidupan, Mee menyebut masa muda adalah masa siang hari (agapi tanii/agapi gaa). Disisi lain, masa ini adalah masa yang diselimuti dengan perasaan “kehati-hatian” karena masa ini gampang melewati batas-batas nilai moral budaya setempat (teritory culture)”. Sebagai contoh, orang tua Mee mengatakan “yoka gaga kou peukaiko tibigi koyaka gai” artinya “hati-hati pada masa muda sebab masa itu, masa yang gampang jatuh kedalam pencobaan). Anak muda laki-laki dan perempuan Mee pada saat itu sangat mematuhi aturan adat. Karena, jika ada yang melanggar, ada akibat sesuai perbuatannya masing - masing. Ada pula bagaimana berkebun, beternak, berburu dsb. diajarkan orang tua kepada anak.

Menjadi pertanyaan saat ini bahwa apakah makna hidup suku Mee yang sesungguhnya itu masih dilestarikan oleh generasi tua atau muda saat ini? Kalau tidak, siapakah laki-laki atau perempuan, tua atau muda yang lebih dulu mengambil inisiatif untuk mengembalikan Hidup sebagai suku Mee sesungguhnya yang sedang tenggelam? Apakah dari Lembaga Agama atau dari Pemerintah? Karena makna hidup yang sesungguhnya adalah identitas dan bagian hidup dari suku Mee itu sendiri. Untuk itu penulis menganjurkan bahwa sebelum membangun Kabupaten Deiyai yang baru maupun Kabupaten lain yang ada di wilayah suku Mee, ia harus menemukan jati diri sebagai pribadi yang beridentitas dan mengembangkan hidupnya dari sifat dan budaya suku Mee itu sediri. Karena dalam pembangunan Kabupaten Deiyai yang baru membutuhkan kesempurnaan dan keutuhan Mee yang dipupuk oleh leluhur kita yang akan menjadi dasar bangunan yang kokoh.

C. MEE, MENURUT ALKITAB.

Kalau kita adalah “manusia” (Mee), membaca sambil merenungkan apa yang dimuatkan di dalam Alkitab karena menurutnya detail dan paling kompleks dijelaskan bahwa Manusia Dijadikan untuk ALLAH. (Amsal 16:4; Wahyu 4:11). Dengan menjadikan Manusia maksud ALLAH dalam penciptaan-Nya disempurnakan. (Kejadian 2:5,7). Manusia itu dijadikan:

1. Menurut gambar ALLAH. (Kejadian 1:26,27; 1 Korintus 11:7),
2. Menurut rupa ALLAH. (Kejadian 1:26; Yakobus 3:9),
3. Berpengetahuan. (Kolose 3:10),
4. Jujur. (Pengkhotbah 7:29),
5. Dari debu tanah. (Kejadian 2:7; Ayub 33:6),
6. Di atas bumi. (Ulangan 4:32; Ayub 20:4),
7. Diharuskan menurut perintah. (Kejadian 2:16,17),
8. Laki-laki dan perempuan. (Kejadian 1:27; 5:2),
9. Oleh ALLAH. (Kejadian 1:27; Yesaya 45:12),
10. Oleh KRISTUS. (Yohanes 1:3; Kol. 1:16),
11. Oleh ROH KUDUS. (Ayub 33:4),
12. Oleh Tritunggal setelah bermusyawarah. (Kejadian 1:26),
13. Pada hari yang keenam. (Kejadian 1:31),
14. Suatu makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7),
15. Dan Suatu teladan KRISTUS. (Roma 5:14).

Manusia yang diciptakan TUHAN, Ia sendiri merasa sempurna dan mulia atas ciptaan-Nya bahwa Sungguh amat baik. (Kejadian 1:31). Ia tidak biarkan ciptaan-Nya begitu saja tetapi ALLAH memberkatinya. (Kejadian 1:28; 5:2). Dan ditempatkan dalam taman Eden. (Kejadian 2:15). TUHAN juga memfasilitasi dengan segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji diberikan kepada Manusia untuk makanan. (Kejadian 1:29).

TUHAN Pemilik manusia berinisiatif bahwa tidak baik kalau seorang diri saja. (Kejadian 2:18). Untuk itu setelah manusia diciptakan-Nya, perempuan dijadikan sebagai penolong laki-laki. (Kejadian 2:21-25). Manusia yang dijadikan-Nya itu memiliki:

1. Ingatan. (Kejadian 41:9; 1 Korintus 15:2),
2. Kehendak. (1 Korintus 9:17; 2 Petrus 1:21),
3. Nyawa atau jiwa. (Lukas 12:20; Kisah. 14:22; 1 Petrus 4:19),
4. Pengertian. (Efesus 1:18; 4:18),
5. Suara hati atau hati nurani. (Roma 2:15; 1 Timotus 4:2),
6. Pikiran. (1 Tawarikh 29:3; Kol. 3:2),
7. Hati (roh). (Amsal 18:14; 1 Korintus 2:11),
8. Tubuh. (Matius 6:25),

Janganlah kita anggap sepeleh dengan karya penciptaan TUHAN yang unik atas Manusia (Mee), karena:

1. Kita dijadikan secara dahsyat dan ajaib. (Mazmur 139:14).
2. Semua bangsa dan umat Manusia dijadikan oleh-Nya dari satu orang saja. (Kisah. 17:26).
3. Dihidupkan dengan nafas ALLAH. (Kejadian 2:7; 7:22; Ayub 33:4).
4. Diberi hikmat dengan ilham Yang Maha Kuasa. (Ayub 32:8,9).
5. Sedikit lebih rendah dari pada malaikat. (Mazmur 8:6; Ibrani 2:7).
6. Berasal dari bumi, yaitu dari debu tanah. (1 Korintus 15:47).
7. Jenis dan keadaan manusia berbeda dari makhluk lain. (1 Korintus 15:39).
8. Lebih indah dari segala makhluk. (Matius 6:26; 10:31; 12:12).
9. Lebih berakal budi dari pada segala makhluk. (Ayub 35:11).
10. Berkuasa atas segala makhluk. (Kejadian 1:28; Mazmur 8:7-9).
11. Manusialah telah memberi nama kepada segala makhluk. (Kejadian 2:19,20).
12. Dan pengetahuan manusia bertambah setelah dewasa. (1 Korintus 13:11) .

Dari semua uraian di atas ini menunjukkan bahwa dari semua makhluk yang diciptakan ALLAH, Manusia (Mee) adalah jauh lebih mulia dan paling kompleks. Akan tetapi, oleh karena kesombongan, Manusia sering kali lupa bahwa ALLAH adalah Pencipta mereka, dan bahwa mereka adalah makhluk ciptaan dan bergantung pada ALLAH sambil memupuk kesempurnaan dan keunikan yang dimilikinya.

Jika saya merasa bahwa saya adalah manusia, pasti mempunyai mata untuk melihat dan membaca kebenaran yang ada di dalam Firman TUHAN dan melakoninya; merasa saya adalah manusia, pasti mempunyai telinga untuk mendengar apa yang difirmankan TUHAN kepada saya; merasa saya adalah manusia, pasti mempunyai perasaan dan pikiran untuk membedahkan mana yang baik dan mana yang jahat dan bertindak sesuai dengan kehendak Pencipta kita. Dengan demikian melalui kabupaten Deiyai baru ini, kita akan membangun tubuh rohani dan tubuh jasmani yang adalah Bait ALLAH yang tidak ada taranya.

D. DUA TUBUH DALAM SATU PRIBADI MEE

Alkitab menyatakan bahwa kepribadian manusia, yang diciptakan menurut gambar ALLAH itu, merupakan suatu ketritunggalan yang mencakup komponen roh, jiwa, dan tubuh (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 4:12). ALLAH membentuk Adam dari debu tanah (tubuh) dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (roh), dan manusia pun menjadi "makhluk yang hidup" (jiwa). (Kejadian 2:7). ALLAH bermaksud agar dengan memakan buah pohon kehidupan dan menaati perintah-Nya untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Manusia tidak akan pernah mati tetapi akan hidup selama-lamanya (Kejadian 2:16-17; Kejadian 3:22-24). Sebagai akibat dosa manusia, kita terbaginya pribadi (tubuh) manusia menjadi debu tanah yang kembali kepada tanah dan roh yang kembali kepada ALLAH (Kejadian 3:19; 35:18; Pengkhotbah 12:7; Wahyu 6:9). Dengan kata lain, pemisahan tubuh dari roh dan jiwa adalah akibat dari kutukan ALLAH atas umat manusia karena dosa dan akhirnya akan diperbaiki hanya pada saat kebangkitan tubuh pada hari terakhir.

Jiwa (bahasa Ibrani nephesh_; bahasa Yunani _psyche_) sering diterjemahkan "hidup", secara singkat dapat didefinisikan sebagai aspek non-materi dari pikiran, perasaan, dan kehendak dalam kepribadian manusia yang menjadi hasil perpaduan roh dan tubuh. Jiwa bersama dengan roh manusia akan hidup terus ketika tubuh seseorang meninggal. Jiwa demikian terkait dengan batin seseorang sehingga sering kali dipakai sebagai sinonim untuk "orang" (Imamat 4:2; 7:20; Yosua 20:3). Tubuh (Ibrani _basar_; Yunani _soma_) dapat didefinisikan secara singkat sebagai unsur materi seseorang yang kembali ke tanah pada saat orang itu meninggal (kadang-kadang disebut daging). Roh (Ibrani. _ruach_; Yunani _pneuma_) secara singkat dapat didefinisikan sebagai unsur hidup non-materi manusia. Dalam roh ini tinggal kemampuan rohani dan hati nurani kita; melalui aspek inilah kita berhubungan dengan ROH ALLAH.

Manusia itu satu kesatuan yang sempurna yang tidak dapat dipisahkan eksistensi antara tubuh dan roh. Keduanya saling menopang dan saling melengkapi, namun dalam melangsungkan peranannya masing-masing berbeda. Tetapi keduanya dipandang TUHAN sangatlah penting, oleh karena itu ketikan TUHAN YESUS berada di dunia ini, Dialah memenuhi dan melayani serta menyembuhkan kedua bagian manusia itu secara sempurna. Pernyataannya ini sesuai dengan tulisan Malcolm Brownlee menuliskan dalam bukunya yang berjudul: ‘Tugas Manusia Dalam Dunia Milik TUHAN’ bahwa :

“Dalam Alkitab manusia bukan roh atau tubuh saja, tetapi kesatuan tubuh dengan roh. Karena itu apa yang mempengaruhi manusia juga mempengaruhi rohnya. Hal jasmaniah seperti makan, minum, pakaian, kesehatan, tempat untuk bertedu, dll. Tidak bisa dipisahkan dari hal-hal rohani”, .

Tubuh jasmaniah membutuhkan material, demikian juga tubuh rohaniah membutuhkan spiritual. Tetapi kebutuhan jasmaniah tidak dapat dipuaskan oleh spiritual, demikian juga sebaliknya. Tujuan akhir daripada pemenuhan kebutuhan manusia yang ganda ialah untuk mencari kepuasan, kesejahteraan dan kemakmuran di dunia sekuler (sementara) dan di dunia sepenuh waktu (surga) nanti.

TUHAN telah memandatkan tugas kepada manusia bahwa setiap orang memelihara, merawat, dan menjaga kedua bagian tubuh yakni rohani dan jasmani sambil melaksanakan tugas dan tanggung jawab untuk melayani dan memuliakan-Nya. Pernyataannya ialah bagaimana caranya agar manusia dapat memelihara, merawat dan menjaga secara sempurna sambil menjalankan tugas dan tanggungjawab di bumi? Jawabannya ialah: setiap manusia berusaha mengembangkan daya dan kemampuan kreativitasnya, yang dianugerahkan secara cuma-cuma oleh TUHAN bagi tiap-tiap orang.

Tubuh Jasmani: TUHAN menjadikan manusia (tubuh) untuk tempat atau rumah kediaman-Nya. Maka manusia wajib memelihara, menjaga dan merawat tubuh bagian esensi dari pemujaan kepada TUHAN sebagai Sang pemilik otoritas ilahi atas tubuh manusia. Mengenai pentingnya tubuh, ditulis Rasul Paulus bahwa: “Tidak tahukan kamu, bahwa kamu adalah Bait ALLAH dan bahwa ROH ALLAH berdiam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan Bait ALLAH, maka ALLAH akan membinasakan dia…” (I Korintus 3:16-17). Jikalau seseorang tidak memelihara, merawat, menyelamatkan bahkan sampai membinasakan bait TUHAN oleh karena kebutuhan lahiriah (makan, minum dan kesehatan); maka TUHAN akan membinasakannya. Memelihara, merawat dan menyelamatkan tubuh adalah juga merupakan mandat TUHAN untuk manusia karena dari dalam tubuh yang sehat TUHAN akan bertahta dan berkarya .

Eksistensi tubuh manusia dalam dunia sekuler adalah fana dan tidak kekal tetapi ia juga merupakan tembok hidup tubuh rohani dalam dunia sekuler pula. Ketika tubuh jasmani yang adalah tembok hidup bagi tubuh rohani melemah, maka berbagai musuh bagi tubuh rohani yang ada di luar tembok akan masuk melalui bagian yang lemah untuk membunuhnya. Musuh tubuh rohani itu berupa “mencuri, merampok, berzinah, membunuh, dsb.” Ketika “lapar” (kebutuhan), lapar itu diakibatkan oleh malas/tidak kerja sehingga tidak ada makanan, tidak ada jalan lain kecuali jalan curi untuk memenuhi kebutuhan perut. Dengan jalan demikian secara tidak sadar kita sudah membuka jalan bagi musuh dan membunuh tubuh rohaninya. Demikian juga musuh (perbuatan yang melanggar moral) yang lain.

Tugas manusia di dalam dunia milik TUHAN adalah KERJA untuk menyelamatkan pribadi, orang lain dari musuh kedua yaitu tubuh jasmani dari satu pribadi dan untuk memuliakan TUHAN. Hal itu sesuai dengan Jerry & Mary White menuliskan:

“Kerja berarti memuliakan. Keluaran 34 : 21 memberikan perintah ini: ‘Enam hari lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga’. … perhatikanlah bahwa ayat ini mengatakan, ‘Enam hari lamanya engkau bekerja’. Itu adalah perintah, bukan pilihan. Kemalasan dikutuk. … ingatlah bahwa kerja di masa kini mencakup segalah sesuatu yang dilakukan untuk melangsungkan kehidupan keluarga, bukan sekadar kerja dalam suatu usaha. … Kerja jelas merupakan bagian penting dari kehidupan”, (Jerry, 1993 : 17 – 18) .

Bahwa KERJA adalah usaha sadar seseorang atau kelompok masyarakat yang tidak terlepas dari kehidupan kita seperti J.Verkuil menuluskan: ”segala sesuatu datang dari kerja dan pekerja oleh dan kepada kerja” (Verkuil, 2002:274) . Ungkapan ini suatu hal yang wajar yang perlu di pahami sebagai modal penghidupan bagi warga masyarakat Deiyai, sebab hidup tanpa usaha bekerja hanyalah menunggu maut.

KERJA berarti tanda kehidupan dan kata lain ialah bahwa: ”barang siapa melakukan sesuatu tugas pekerjaannya dengan rajin, maka ia akan hidup, mendapat nyaman, segar, sehat, pintar, dan ia akan mendapat kepuasan”. Sehingga ia membangun pribadi usahanya, keluarganya, Gerejanya, kampung-nya, ia akan membangun pelayanan pekerjaan TUHAN di bumi dan khususnya di Kabupaten Deiyai yang kita cintai ini .

Tubuh Rohani: bagian ini berhubungan langsung dengan TUHAN sendiri karena ketika manusia dijadikan oleh-Nya, nafas hidup (roh) yang harus tetap tinggal di dalam Dia telah memasukkan ke dalam tanah (daging). Tubuh rohani adalah pinjaman dari Sang Pencipta, oleh karena itu menjaga dan memelihara adalah tanggungjawab hakiki dari setiap pribadi manusia. Tubuh rohani jugalah takhta Raja, dimana TUHAN Raja Agung bertakhta di hati manusia yang kudus.

Tubuh rohani manusia harus diberikan makan untuk memeliharanya tetapi bukan oleh makanan dan minuman jasmani, yang harus dipeliharanya ialah oleh Firman TUHAN yang adalah makanan baginya. Disamping itu, tubuh rohani juga membutuhkan perlindungan dari musuh-musuhnya, yaitu perbuatan yang bertentangan dengan kehendak TUHAN. Pastikanlah bahwa ketika kita melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan kehendak ALLAH, membinasakan tubuh rohani dan TUHAN keluar dari dalam kita.

Ketika anda pandang kedua bagian yakni jasmani dan rohani menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, maka visi dan misi TUHAN akan terwujud di bumi Kabupaten Deiyai baru ini.

Andai kata ”Manusia Bagian Kanan” kepada ”Manusia Bagian Kiri” tidak dapat berkata ”Saya tidak membutuhkanmu”, sangat tidak mungkin tetapi keduanya saling membutuhkan satu dengan yang lain dan dengan demikian cita-citanya akan terwujud. Demikian juga ”jasmani” dan ”rohani” adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan eksistensinya. Jika keduanya tidak seimbang atau ganjil, maka manusia seutuhnya tidak akan terbangun. Karena bukan hanya rohani saja melainkan untuk berperan aktif di berbagai lahiriah juga, agar kehidupan menjadi sepaham dengan TUHAN dan akan bekerja sama dengan TUHAN dalam membangun manusia seutuhnya Kabupaten Deiyai Untuk Persiapan Kerajaan Anak Domba TUHAN. Amin.

Manusia mempunyai muka topeng. Ia akan menampilkan bukan keaslianya lebih dahulu. Lama kelamaan suatu saat melalui perbuatan dan tindakannya baik secara sadar ataupun tidak dasar keaslian yang ada di dalam pribadi manusia akan nampak. Untuk itu uraian di atas ini menjadi cermin dan tolok ukur setiap pribadi orang yang melayani di lapangan pelayanan dunia sekuler (Pemerintahan) maupun di dunia sepenuh waktu (Gereja). Ketika kita mengenal pribadi yang sesungguhnya bahwa merasa kekurangan ataupun menambah dari kesempurnaan pada diri kita, saatnya mengambil langka untuk menemukan kesempurnaan yang dibentuk TUHAN semula.

Tidak ada cerita baik dongeng maupun mitos ataupun cerita rakyat bahwa air kabur dan jerni tidak dapat keluar bersamaan dalam satu tempat. Demikian juga tidak mungkin terjadi di dalam satu manusia yang sempurna. Hal itu terjadi pada orang yang mengurangi kesempurnaan yang dibentuk TUHAN. Oleh Karena itu untuk membangun Kabupaten Deiyai yang baru, membutuhkan manusia yang sempurna yaitu suku Mee yang bermoral, bermartabat dan berbudaya yang dikehendaki TUHAN. Dengan demikian akan terwujud Kabupaten Deiyai Baru yang Syalom (Damai, adil, kudus, dan sejahtera) yang diimpikan bersama.


By: SENIOR PEKEI